“Valentine” menjadi istilah
yang akrab dan populer disebutkan untuk momentum 14 Februari. Momentum
ini menyimpan nilai tersendiri bagi mereka yang merayakannya. Sehingga
tak jarang 14 Februari diaktualisasikan sebagai sebuah perayaan khusus
disetiap tahunnya. Dimulai dengan mengemas sebuah kado istimewa,
melayangkan ucapan “happy Valentine”, hingga mengadakan perayaan besar
bak sebuah resepsi pernikahan. Hal ini dinilai wajar untuk sebuah
momentum yang “diistimewakan”.
Namun demikian, kewajaran perayaan Valentine menjadi polemik, bahkan
mengundang perbincangan hangat, saat Islam turut ambil bagian untuk
mengistimewakan perayaan ini. Valentine yang diyakini sebagai budaya
yang lahir dari agama Kristen telah melibatkan sebahagian besar remaja
Islam untuk merayakannya. Hal ini dinilai salah sehingga melahirkan
klaim “haram” bagi umat Islam yang merayakannya.
Ironisnya, fatwa “haram” untuk perayaan Valentine bagi umat Islam, tidak
malah menjadikan pemeluk Islam (khususnya remaja) meninggalkan budaya
perayaan Valentine ini, akan tetapi sebaliknya, perayaan tersebut justru
mendarah daging dan “membumi” dalam masyarakat Islam pada umumnya.
Apakah dikarenakan doktrin tersebut merupakan sebuah “ijtihad” baru yang
kurang memiliki kejelasan hukum sebagaimana persoalan kehidupan
lainnya, jelasnya fatwa “haram” terhadap perayaan Valentine agaknya
kurang memiliki “makna generik” yang pada akhirnya menjadikan fatwa
tersebut kurang diindahkan.
Kesamaran Sejarah Valentine
Berbeda dengan hari besar lain semisal 25 Desember sebagai hari natal,
atau 12 Rabiul Awal yang merupakan hari kelahiran Muhammad SAW, 14
Februari sesungguhnya memiliki “kesamaran sejarah” sebagai sebuah hari
besar. Kebanyakan orang menyebut hari ini sebagai hari “kasih sayang”,
namun tidak ada landasan yang kongkrit dan argumentatif untuk menyanggah
kebenarannya.
Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah
Valentine yang disadur dari nama “Valentinus” paling tidak merujuk pada
tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda, yaitu: seorang pastur
di Roma, seorang uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi
Africa. Koneksi antara tiga martir ini terhadap perayaan hari kasih
sayang tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan Paus Gelasius
II pada tahun 496 M menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada hal yang
diketahui dari ketiga martir ini. 14 Februari dirayakan sebagai
peringatan santa Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya
Lupercalica (dewa kesuburan) yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa jenazah santo Hyppolytus yang
diidentifikasi sebagai jenazah santo Valentinus diletakkan kedalam
sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Churc
di Dublin Irlandia oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Sejak itu,
banyak wisatawan yang berziarah ke gereja ini pada tanggal 14 Februari.
Pada tanggal tersebut sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan
kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Catatan pertama dikaitkannya hari besar santo dengan kasih sayang
dimulai sejak abad ke-14 di Inggris dan Prrancis, dimana diyakini bahwa
14 Februari merupakan hari ketika burung mencari pasangan hidupnya.
Keyakinan ini ditulis dalam karya sastrawan Inggris abad ke-14 bernama
Geoffery Chaucer. Dalam karya tersebut dia menuliskan: “…for this was
sent on seynt valentyne’s day,…when every foul cometh ther to chosehis
matc (inilah yang dikirim pada hari santo Valentinus,…saat semua burung
datang kesana untuk memilih pasangannya)”.
Sumber lain dari sebuah kartu Valentine abad ke-14 yang konon merupakan
bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London menceritakan
beberapa legenda santo Valentinus, diantaranya mencatat bahwa: sore hari
sebelum Valentinus gugur sebagai syuhada, ia menulis sebuah pernyataan
cinta kecil yang diberikan kepada sipir penjaranya bertuliskan “dari
Valentinus”. Konon ketika itu serdadu Romawi dilarang menikah oleh
Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan
mereka. Itu sebabnya pada zaman tersebut para pasangan yang tengah
menjalin cinta lazim bertukar catatan dan memanggil pasangannya sebagai
“Valentine”.
Aktualisasi Perayaan Valentine
Sekelumit catatan “sejarah samar” latar belakang perayaan Valentine yang
dipaparkan diatas sesungguhnya masih belum cukup beralasan untuk
mengaitkan 14 Februari dengan hari kasih sayang. Anehnya, sampai hari
ini aktualisasi perayaan Valentine semakin tumbuh subur dan berkembang
pesat seperti pertumbuhan jamur di musim hujan. Padahal, tanpa disadari
perayaan ini telah dihapus dari kalender gereja sejak tahun 1969 sebagai
sebuah upaya menghilangkan keyakinan terhadap santo-santa yang asal
mula sejarahnya hanya sebatas legenda dan masih perlu dipertanyakan.
Aktualisasi perayaan Valentine yang semakin subur ini dapat dilihat
dibeberapa wilayah dunia yang turut menyisihkan waktu untuk
merayakannya. Seperti di Jepang, hari Valentine, berkat marketing
besar-besaran, sebagai hari dimana para wanita memberikan pria yang
mereka senangi permen coklat. Ini tidak dilakukan secara sukarela,
melainkan sebagai sebuah kewajiban, khususnya bagi mereka yang bekerja
di Kantor. Dengan sedikit penambahan ciri khas, Thaiwan juga
mengaktualisasikan perayaan Valentine semacam ini.
Di Prancis perayaan Valentine dimeriahkan dengan pesta kembang api,
sementara di Australia para remaja biasa kumpul disepanjang jalan
bersama teman-teman dan pasangan mereka untuk merayakan Valentine. Pada
saat yang sama, Valentine dikecam oleh orang Melayu di Malaysia. Dan
tanpa disadari pula, budaya bertukaran kado Valentine antara sepasang
kekaasih pada tanggal 14 Februari mulai muncul di Indonesia.
Islam dan Argumentasi Penolakan Valentine.
Dari berbagai macam warna dan bentuk aktualisasi perayaan Valentine
diseluruh penjuru dunia, Islam justru hadir sebagai institusi yang
menolak perayaan Valentine tersebut. Arab Saudi misalnya, sebagai
wilayah yang dianggap kiblat muslim diseluruh dunia, telah mengharamkan
Valentine bagi umat Islam karena dinilai sebagai perayaan kaum Kristen
yang penuh kekufuran. Padahal dengan alasan yang tidak jelas, umat Islam
di Indonesia (pada umumnya) sebagai negara pemeluk Islam terbanyak di
dunia, telah menjadikan Valentine sebagai bahagian yang mesti dirayakan
setiap tahunnya (khususnya bagi para remaja).
Barangkali ada benarnya “falsafah konyol” yang menyebutkan “hukum dibuat
untuk dilanggar”, sehingga dengan serta merta Valentine yang telah di
klaim “haram” bagi pemeluk Islam begitu leluasa mengakrabkan diri .
Agaknya syariat kurang berlaku dalam tataran ini. Atau justru syariat
memang tak lebih dari seperangkat aturan yang terikat ruang dan waktu,
serta terkungkung keadaan tertentu, sehingga perayaan Valentine boleh
jadi “berganti wajah” dalam perspektif hukum Islam sesuai dengan
keadaannya. Sebagaimana pembelaan pemikir rasional, bahwa tidak ada
statement yang qathi (jelas) didalam al-Qur’an maupun hadits terhadap
pelarangan perayaan Valentine, sekalipun itu budaya yang tidak lahir
dari Islam itu sendiri.
Melihat kenyataan bahwa perayaan Valentine semakin subur ditengah
masyarakat Islam (Indonesia khusunya), agaknya syariat memang perlu
menghadirkan sebuah argumentasi baru yang lebih memiliki makna generik
serta terlepas dari sikap eksklusif yang menekankan prinsip bahwa
Valentine lahir dari ajaran Kristen. Dengan kata lain, sungguhpun tidak
ditemukan literatur lain selain literatur Kristen yang mampu
menghantarkan sejarah Valentine, dan hal ini menandakan bahwa Valentine
tidak dapat dibantah sebagai budaya yang datang dari ajaran Kristen,
tetap saja ada nilai eksklusif yang akan lahir jika Islam menolak
perayaan tersebut dengan alasan ini.
Barangkali, alasan yang lebih rasional dan universal untuk menolak
perayaan Valentine bagi umat Islam adalah dengan mengajukan pertanyaan:
untuk apa Valentine dirayakan?; cukup beralasankah 14 Februari
dideklarasikan sebagai hari kasih sayang?. Maka pertanyaan ini dengan
sendirinya akan menghadirkan jawaban bahwa Valentine tidak lain
diperingati untuk mengenang santo Valentinus yang hanya ada dalam
kayakinan Kristen. Oleh karenanya, kurang tepat jika Valentine dirayakan
umat Islam dengan alasan turut merayakan hari kasih sayang. Padahal,
Kristen sendri sebagai institusi yang memulai propaganda perayaan
tersebut, pernah menghapuskan penanggalan ini dari kalender gereja
dengan alasan sejarah yang tidak jelas. Naif sekali jika umat Islam yang
notabenenya “ikut-ilutan” justru menjadi vigur yang paling “getol”
merayakan Valentine tersebut.
Penutup.
Di Jepang Valentine dirayakan sebagai propaganda marketting secara
besar-besaran. Orang Prancis dan Australia mungkin punya alasan sendiri
untuk merayakan Valentine. Tapi yang sulit dimengerti adalah si “Fulan”
penduduk asli Indonesia, dengan biaya yang cukup mahal turut mengemas
kado istimewa untuk dipersembahkan kepada kekasihnya di tanggal 14
Februari. Apakah si “Fulan” juga punya alasan merayakan Valentine, atau
justru menjadi korban ikut-ikutan?.
Tulisan sederhana ini kiranya dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca
untuk lebih memahami makna perayaan 14 Februari sebagai hari Valentine.
Mungkinkah perayaan tersebut akan semakin membudaya dalam lingkungan
Islam akibat kebutaan sejarah, atau justru umat Islam akan semakin sadar
bahwa mereka tidak punya alasan yang jelas untuk ikut merayakan
Valentine?. Wallahu a’lam.sedangkan Orang orang kafir terus berusaha menyerang umat islam dari berbagai arah sementara kita tidak mempunyai benteng apapun untuk menghadangnya maka umat islam sangat memerlukan Amirul mukminin. Mari kita terus berdo'a semoga Allah SWT memberikan pertolongannya pada kita dengan Tegaknya Khilafah Islam di syuriah yang sekarang sedang berlangsung dan yang akan menjadi pusat ibu kota khilafah seluruh penjuru dunia.Amin.

No comments:
Post a Comment